Budaya, Pesta dan Toxic Jakarta

Budaya, Pesta dan Toxic Jakarta


Jakarta

Adat, tradisi dan budaya tentunya menjadi salah satu alasan utama mengapa Bali menjadi salah satu tujuan wisata terpopuler di dunia. Matahari tropis, ombak di sepanjang pantai, tarian, pakaian hingga aroma dupa yang menembus seluruh penjuru kota.

Namun, naif jika melupakan kesenangan di lantai dansa pada malam pesta. Beragam tempat hiburan berkembang dari waktu ke waktu menawarkan beragam pengalaman bagi pecintanya. Juga telah dibahas sebelumnya, bagaimana seluruh pergerakan di sepanjang pantai, Kuta, Legian, Seminyak, Berawa dan sekarang gelombang sosial berjalan dengan baik di Canggu.

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

Budaya dan pesta kemudian hidup berdampingan seperti siang dan malam, panas dan hujan. Ternyata, tidak semua daerah bisa seperti itu, dimana unsur-unsurnya justru saling menguatkan, meski terkadang saling bersentuhan.

Mantis Nongkrong di Canggu Bali Foto: Rachman_punyaFOTO

Lima narasumber detikHOT yang sebelumnya angkat bicara soal perpindahan wilayah partai di Bali juga dimintai keterangan terkait hal tersebut. Bukan tanpa alasan, karena merekalah orang-orang yang setiap hari terlibat langsung. Binar Abiyasa Namoy Budaya), pemilih musik. Rama, seorang seniman visual yang dikenal sebagai Suttasoma. Adi Yukey, pengusaha dan wajah sosial Canggu. Serta dua putra dari daerah Bali, Gilang, pendiri kelompok kolektif PNNY dan Andre Yoga, seorang seniman lukis.

Gilang ‘PNNY’ dibuka lebih dulu dengan pendapatnya. Menurutnya, sebagai pemuda asli Bali, sejak awal tradisi dan pesta yang berdampingan ini membuat Bali sangat menarik.

“Menurut saya, orang Bali lokal sangat terbuka, tidak hanya kepada orang, tetapi juga budaya. Mereka bisa mengajak orang untuk menunjukkan itu, mengajar. Anak muda jangan lupa asal usulnya, tapi mereka bisa menyambut turis dengan tangan terbuka mereka. terbuka dan itu membuat Bali sangat menarik.. Tapi ya, di banyak orang yang datang ke Bali, pasti ada turis sampah, tentu 100 orang, ada yang marah, tidak mau mengikuti budaya kita.”

Menurut Binar, budaya Bali didominasi oleh mayoritas pemeluk Hindu, konsep keseimbangan hidup di dunia memang prinsip.

Binar Foto: dok detikcom

“Banyak yang berpura-pura bahwa kain bercorak kotak-kotak di pohon melambangkan dunia hitam putih, jadi seimbang. Mereka berdoa setiap hari dan juga pesta bisa setiap hari.”

“Memang itu juga yang membuat saya salut dan kagum pada Bali. Dengan begitu banyaknya budaya dan budaya asing, namun budaya asli mereka tetap kuat, tidak tergerus dan mereka banggakan. Misalnya, mereka bangga tetap menggunakan logat Bali dan bahasanya kuat. Itu saja. Padahal belum tentu di daerah lain, kampung saya di Lampung cukup sulit.”

Sebagai anak muda yang lahir, bekerja dan bersosialisasi di Bali, Andre Yoga merasa hal yang membuat budaya itu ada tidak serta merta hilang karena kuatnya sistem persaudaraan di banjar. Banjar sendiri berarti kelompok masyarakat dalam suatu wilayah desa yang ditugaskan untuk mengelola berbagai keperluan administrasi dan adat di desa tersebut. Mungkin jika disederhanakan seperti Rukun Warga (RW), namun dengan tugas pelaksanaan yang lebih menonjol karena berdasarkan adat.

Pelukis Andre Yoga dari Bali yang juga mempresentasikan karyanya tentang kecemasan tentang Bali dan kehidupannya. Foto: Rachman_punyaFOTO

“Menurut saya kalau mereka asli Bali masih ada sistem banjarnya, masih ada sistemnya kalau kita tidak kumpul di banjar seperti diabaikan. Jadi ada kegiatan banjar yang harus kita hadiri. Jadi, lingkungan membantu kita untuk tetap patuh dan solid satu sama lain.

“Kemudian keluarga setiap hari kesana, misalnya masih ada Mebanten, sholat subuh. Akhirnya pengaruh dari luar tidak mudah mengubah kita di sini. Seperti misalnya tiba-tiba ingin jadi turis itu tidak mungkin.”

Berikutnya tentang pesta dan budaya yang hidup berdampingan