liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86

China dan Iran, Dua Negara ‘Tangan Besi’ Diganggu Demo Barisan Muda

China dan Iran belakangan ini digoyang demo para kaum muda yang tidak puas dengan kebijakan rezim di negara itu.

Jakarta, CNNIndonesia

Demonstrasi mengguncang sejumlah negara di tengah pandemi Covid-19, ancaman krisis ekonomi, dan resesi.

Bahkan negara maju pun tidak luput dari protes rakyatnya. Beberapa dari mereka Cina dan Iran. Demonstrasi di kedua negara dimulai oleh kelompok muda yang berani menentang apa yang mereka anggap sebagai rezim otoriter.

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

Cina

China menjadi sorotan setelah beberapa warga di berbagai kota menentang jam malam akibat kasus Covid-19. Beberapa juga mendesak Presiden Xi Jinping untuk mundur.

Diyakini bahwa sebagian besar pengunjuk rasa berasal dari kaum muda yang memprotes kebijakan “tangan besi” Xi Jinping yang menjadi lebih lazim selama epidemi.

Baru-baru ini, warga di Guangzhou, China Selatan, menggelar aksi demo pada Selasa malam hingga Rabu (30/11). Demonstrasi ini bahkan sempat menimbulkan konflik antara polisi dan peserta aksi.

[Gambas:Video CNN]

Pekan lalu, Shanghai juga menjadi sorotan setelah warga menggelar demonstrasi di Jalan Urumqi. Aksi ini pun berujung ricuh.

Pada Minggu malam, beberapa orang dilaporkan telah ditangkap. Salah satu jurnalis media internasional, BBC, juga ditangkap dan menjadi sasaran kekerasan dari polisi China.

Pihak berwenang telah menutup jalan setelah demonstrasi yang kacau. Namun, di pagi hari, mereka dibuka kembali.

Demonstrasi di Urumqi bermula saat warga memprotes tewasnya 10 orang akibat kebakaran di ibu kota provinsi, Xinjiang, Kamis lalu.

Warga meyakini banyak korban meninggal dunia karena petugas terlambat datang ke lokasi akibat pembatasan yang terlalu ketat.

Sehari setelah kejadian, ratusan warga melakukan aksi protes di depan kantor pemerintahan Urumqi.

Berdasarkan video yang viral, warga berkumpul melampiaskan amarahnya dengan meneriakkan slogan, “Cabut lockdown!”

Demonstrasi kemudian menyebar ke kota-kota lain di China, termasuk Shanghai.

Oktober lalu, warga menyuarakan protes mereka menjelang Kongres Partai Komunis China (PKC) di Beijing, juga dikenal sebagai Jembatan Beijing.

Gambar yang beredar di media sosial memperlihatkan dua spanduk yang digantung di jembatan layang di Beijing.

“Katakan tidak pada pengujian Covid, ya pada makanan. Tidak pada lockdown, ya pada kebebasan,” bunyi salah satu spanduk, seperti dikutip CNN.

Teks di spanduk itu melanjutkan, “Aksi untuk revolusi budaya, ya untuk reformasi. Tidak untuk pemimpin besar, ya untuk memilih. Jangan jadi budak, jadilah warga negara.”

Spanduk lain juga menyerukan, “Silakan, buang diktator dan pengkhianat negara Xi Jinping.”

Selain gambar spanduk, video kepulan asap, rekaman suara slogan-slogan protes juga tersebar di media sosial.

China sudah lama tidak dilanda demonstrasi. Aksi besar terakhir yang terjadi di Tiongkok adalah selama protes Tiananmen pada tahun 1989.

Lanjutkan membaca di halaman selanjutnya…

Demonstrasi Berdarah di Iran

BACA HALAMAN BERIKUTNYA