liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77

‘Gado-gado’ Papua di Foto Prewedding Kaesang-Erina

Salah Kaprah Foto Prewedding Kaesang, Arkeolog: Harusnya Pakai Koteka


Jakarta

Foto prewedding Kaesang Pangarep dan Erina Gudono menyita perhatian netizen. Dari sekian banyak pakaian adat, yang paling eye catching adalah dari Papua.

Kaesang dan Erina mengunggah foto prewedding dengan mengenakan beberapa pakaian adat. Mulai dari Dayak, Gorontalo hingga Papua.

Pakaian Papua yang dikenakan diambil dari suku Dani. Suku Dani tinggal di dataran tinggi yang disebut Lembah Baliem.

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

Konsep pakaian adat yang digunakan Kaesang sangat indah dan menakjubkan. Namun sayangnya, penggunaan pakaian adat ini dikoreksi oleh netizen khususnya yang berasal dari Papua.

Tampak Kaesang mengenakan rok sali yang merupakan busana khusus gadis Dani. Bahkan, pria suku Dani menggunakan koteka sebagai pengganti rok sali.

“Pakaian yang mereka berdua kenakan sali, semacam rok untuk gadis Dani yang belum menikah. Laki-laki Dani memakai koteka,” kata Hari Suroto, peneliti arkeologi BRIN.

Selain rok sali, penggunaan make-up Kaesang juga dinilai kurang tepat oleh Hari. Hiasan pada wajah Kaesang bukanlah ciri khas suku Dani melainkan ciri khas pesisir.

Prewedding Kaesang dan Erina Gudono Foto: Instagram/@kaesangp

“Dani biasanya hanya mengenal warna merah, coklat, hitam, putih. Bahkan yang dioleskan di seluruh tubuh atau wajah, tidak digambarkan seperti itu,” ujarnya.

Pada tubuh manusia suku Dani terdapat kare-kare berupa tudung mirip mahkota yang terbuat dari bulu burung berwarna merah atau putih. Ada juga kinisi atau puali, hiasan kepala yang terbuat dari bulu burung elang atau burung kakatua atau burung bangau putih. Hiasan pada hidung berupa gading babi atau disebut wam esi.

Tidak hanya itu, di dahi juga terdapat hiasan wajah berwarna putih yang disebut herabuak, hiasan bulu ekor anjing di lengan kiri dan kanan yang disebut yeke esi, dan hiasan di bagian dada seperti dasi yang disebut walimo.

Bagian belakang tidak copot, terdapat hiasan yang terbuat dari bulu burung garuda yang disebut sawusa dan pakaian adat pria berupa holim atau koteka.

Aksesoris wanita Suku Dani berupa hiasan kepala seperti mahkota bunga berwarna kuning yang disebut holusoom eken, aksesoris pada leher dan dada (sejenis ikat leher yang terbuat dari kulit kayu) disebut zion atau tipar.

“Rok adat untuk wanita disebut sali dan rok adat wanita Dani yang sudah menikah disebut yokal. Untuk wanita Dani yang sudah menikah, biasanya ujung lainnya diikat,” lanjut Hari.

Hari kesal dengan ‘gado-gado’ pakaian adat Papua yang dikenakan Kaesang. Menurutnya, sebaiknya Kaesang memilih pakaian khusus pria dari pantai utara Papua.

“Kaesang harus pakai noken khas pantai supaya pas. Tengkolok, rok dan tifa sudah benar, cuma noken yang dipakai noken gunung biasa,” kata Hari.

Sebaliknya, jika Kaesang dan Erina ingin mengenakan noken khas gunung seperti di foto, maka sali dan koteka adalah pasangan yang pas. “Jadi yang mereka gunakan adalah berbagai istilah yang penting untuk budaya Papua,” kata Hari.

Simak Video “Ungkapan Cinta Kaesang untuk Erina Gudono”
[Gambas:Video 20detik]
(bln/ddn)