Membedah Lebih Dalam di Balik Joget Viral Temon Holic

Temon Holic yang viral di Jawa Tengah dan Jawa Timur sejatinya bukan hanya sekadar ekspresi bebas atas dangdut koplo.

Jakarta, CNNIndonesia

Bagi Muchtar Setyo Wibowo alias Temon, menari adalah intuisi saat menonton konser koplo dangdut awalnya hanya pelarian dari situasi keluarga yang suram dan bentuk ekspresi untuk menikmati musik.

Namun dalam perkembangannya, Temui Holic memiliki arti yang lebih luas bagi penggemar musik dangdut koplo khususnya di tanah jawa.

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

Temon mengaku kepada CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu sudah mengenal dunia seni sejak kecil. Namun, situasi keluarga yang tidak nyaman mendorongnya untuk mencari pelampiasan lain.

“Daripada nonton orang tua berkelahi di rumah, lebih baik saya cari hiburan. Karena saya suka dangdut, dangdut adalah pelampiasan saya,” kata Temon.

“Sampai sekarang ya begini-begini, jadi aku masuk dunia entertainment. Bisa masuk TV, viral, jadi fenomena. Jadi aku cari pelampiasan yang positif,” lanjutnya.

[Gambas:Youtube]

Temon pun datang dari satu panggung ke panggung musik koplo. Di sana, dia membiarkan tubuhnya bergerak mengikuti irama drum, dan melepaskan rekaman artistik yang tercetak di ototnya.

Apalagi Temon memiliki prinsip dalam gaya dan tarian. Ia menyebutnya KIS alias kreasi, inspirasi/imajinasi, dan seni. Dari sinilah para penggemar Temon Holic mengembangkan tarian berdasarkan imajinasi masing-masing.

Mereka bebas berkreasi dengan inspirasi datang dari mana saja, mulai dari gerakan tukang cangkul hingga menggambar layang-layang. Meski begitu, tetap ada langkah-langkah yang “wajib”.

“Ada beberapa gerakan wajib yang menjadi ciri khas Temon Holic, misalnya seperti melambaikan tangan. Berpegangan tangan dan melambai, seperti bentuk zig-zag saat dipertunjukkan,” kata Temon.

Menanggapi keberadaan Temon Holic, peneliti Kajian Dangdut, Michael HB Raditya menganggap Temon sebagai salah satu aktor penting yang membuat pola ekspresi dalam musik dangdut menjadi unik.

“Temon Holic tentu bukan yang pertama merespon performer. Tapi yang menarik untuk dilihat dari Temon Holic adalah bagaimana dia tampil di atas panggung,” kata Michael kepada CNNIndonesia.com di acara terpisah.

[Gambas:Instagram]

Menurut Michael, pemaknaan “panggung di dalam panggung” yang ia maksud dipengaruhi oleh prinsip KIS yang dianut oleh Temon Holic. Prinsip ini menggerakkan tari yang semula hanya ekspresi individu menjadi ‘pertunjukan’ tersendiri.

‘Pertunjukan’ Temon Holic ini terlihat dari viralnya tarian ini di media sosial hingga akhirnya melahirkan berbagai lomba tari Temon Holic yang digelar di berbagai daerah.

“Itulah yang akhirnya menyadarkan kita bahwa, ‘mari kita bandingkan satu kelompok dengan yang lain’,” kata Michael. “Intinya bagaimana ada panggung, penyanyi, penonton, dan Temon Holic. Timnya nge-rock,”

“Jadi saya pikir kenapa akhirnya tumbuh dan menyebar, karena ada kesadaran dalam menikmati panggung. Kesadaran kebersamaan dari fans, dari fans, itu saja,” lanjutnya.

Lanjutkan ke berikutnya…

Makna di balik jeda

BACA HALAMAN BERIKUTNYA