Menunggangi Ombak Pergaulan di Bali

Menunggangi Ombak Pergaulan di Bali


Jakarta

Bali hari ini semakin semarak dan bersinar dari segala sisi, bukan lagi hanya soal tradisi dan budaya, tapi juga kemeriahan perayaan. Fokusnya bukan lagi pada seberapa liar pesta di Pulau Dewata, melainkan pergeseran wilayah.

Sejak era 90-an hingga 2000-an, nama Kuta dan Legian bak lantai dansa raksasa bagi para party goers. Berbagai klub dan bar berjejer di jalan, di samping pantai berpasir. Aroma parfum yang memikat berpadu dengan aroma kemenyan dan sesaji khas Bali.

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

Pada tahun 1998, grup Slank merilis lagu berjudul Poppies Lane Memory yang menggambarkan imajinasi liar kehidupan salah satu jalanan terpopuler di kawasan Legian. Orang Bali yang tergabung dalam Superman Is Dead ini juga sempat menggambarkan betapa meriahnya pesta rock n roll lewat lagu-lagunya seperti Kuta Rock City, Poppies Dog Anthem.

Setelah tahun 2010 terjadi pergeseran menuju kawasan Seminyak dan Petitenget. Salah satunya mungkin dipicu oleh berdirinya La Favela dan Jenja yang kemudian mengubah peta pesta Pulau Dewata. Seolah belum cukup, orang-orang kembali berpindah-pindah, mencari ruang baru, menambah kecanduan joging sampai ke Canggu.

detikHOT mencoba menggali kisah peralihan tersebut. Temui beberapa sumber yang dianggap mampu merepresentasikan suara dentuman drum dan bass. Mereka adalah, Binar Abiyasa atau dikenal dengan nama panggung Namoy Budaya. Andre Yoga, seorang seniman Bali. Gilang, seorang DJ dan pendiri grup kolektif paling terkenal PNNY. Seorang perantau asal Jakarta, Rama (Suttasoma), juga menyuarakan suaranya dari segi tulisan dan penampilan. Begitu juga dengan sosok yang dianggap sebagai Duta Asosiasi Canggu, Adi Yukey.

Sekitar seminggu di Bali, tidak hanya wawancara, tapi juga bermain dengan narasumber masing-masing. Kunjungan langsung ke beberapa tempat yang dianggap keramat dalam konteks sosial. Di antara hari-hari yang diisi dengan makan, kopi, dan koktail, kami sampai pada kesimpulan umum, bahwa hiruk pikuk kehidupan pesta di Bali seperti menaiki ombak di sepanjang pantai pulau itu. Apa artinya?

Binar Abiyasa, warga asli Lampung yang kemudian memutuskan hijrah ke Bali pada 2016, menjalani kehidupannya dengan beberapa unit bisnis, sekaligus sebagai pemilih musik reggae di balik nama Namoy Budaya.

Binar Abiyasa Foto: detikcom dok

“Mungkin tahun 2016 ini lebih fokus di area Seminyak dan Petitenget ya Canggu masih kecil, satu tempat mungkin Deus satu-satunya tempat teman manggung. udah atau belum. Sekarang swipe lagi ke daerah Berawa banyak bar yang tersembunyi. Lalu pindah lagi ke Canggu. Hari ini Canggu pusatnya daerah Deus sampai Orang Tua penuh. Sudah jadi tempat party satu arah di Batu Bolong ,” kata Binar.

“Untuk Kuta dan Legian, daripada lepas dari radar sosial, segmen pasarnya berbeda. Mungkin segmen pasar pariwisata dan orang yang baru pertama kali datang ke Bali, yang sering ke Bali, mereka akan lebih mengeksplorasi tempat-tempat pesta di Seminyak. , Petitenget, Berawa, Canggu, Binar melanjutkan.

Mengenai segmen pasar ada satu hal. Saat detikHOT menghabiskan waktu di kawasan Canggu dan Berawa, beberapa bar dan club seperti Da Maria, Behind the Green Door, Luigi’s Hot Pizza memang mayoritas ditempati wisatawan domestik dari Jakarta, Surabaya dan Bandung. Sedangkan wisatawan mancanegara didominasi oleh warga Rusia dan beberapa warga Australia.

Andre Yoga, seniman lukis yang lahir dan besar di Bali, menyadari bahwa esensi pertumbuhan dan perpindahan dimulai dari ombak yang ditunggangi para peselancar.

Pelukis Andre Yoga dari Bali yang juga menampilkan karyanya tentang kepedulian terhadap Bali dan kehidupannya. Foto: Rachman_punyaFOTO

“Jadi intinya surfing banget. Sebenarnya yang saya pikirkan kenapa Canggu bisa naik, karena ada surfing, ombaknya bagus, dan ada sawah. Faktor di Bali kenapa suatu daerah begitu heboh karena disana adalah faktor selancar. Kalau kita lihat di Uluwatu bisa selancar. Di mana ada ombak bagus, di sana ada pergerakan peradaban dan pertemuan. Dari Legian dulu, Kuta, Seminyak, ombaknya bagus semua. Jalan menuju Canggu Semua orang mengikuti ombak. Kalau belajar bersosialisasi, kita hanya harus mengikuti ombak, seperti oh di sini kita bermain dengan orang, oke sana,” jelas Andre Yoga.

Sebagai seorang seniman, Andre Yoga menyediakan banyak kolase visual dengan palet warna pop dan kontras. Idenya sendiri adalah mulai menerapkan informasi dari buku ke percakapan kedai kopi.

“Saya membaca buku Di Tanah Tak Bertuhan (Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun) yang membahas bagaimana orang menjadi religius karena faktor ekonomi. mereka. Lukisan saya.”

Dengan demikian, peralihan dari kawasan pesta ke Canggu secara langsung memengaruhi kehidupan profesionalnya sebagai seniman. Positif dan negatif muncul sebagai dampak.

Selanjutnya tentang perkembangan Canggu yang tidak terkendali