liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86

Spesifikasi Satelit SS-1, Si Mungil Asli Lokal Penghantar Teks Singkat

Apa istimewanya Surya Satellite-1 (SS-1) buatan dalam negeri yang meluncur ke Stasiun Antariksa Internasional (ISS)?


Jakarta, CNNIndonesia

Satelit nano tanah air Satelit Surya-1 (SS-1) berhasil diluncurkan ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Apa spesifikasi dari satelit kecil?

Satelit buatan Indonesia ini diluncurkan pada Minggu (27/11) dini hari menggunakan roket Falcon 9 CRS-26 milik perusahaan antariksa Elon Musk, SpaceX.

Roket Falcon 9 CRS-26 mengemban misi membawa kargo ke International Space Station (ISS), termasuk membawa satelit SS-1.

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

Misi ini berhasil diluncurkan setelah sempat tertunda beberapa hari karena faktor cuaca di Kennedy Space Center, Florida, Amerika Serikat (AS).

Ide dan proyek pengembangan satelit nano ini dicetuskan oleh sekelompok mahasiswa Universitas Surya pada tahun 2016.

Mereka kemudian bekerjasama dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), PT Pacific Satelit Nusantara, Organisasi Radio Amatir Indonesia (ORARI), PT Pudak Scientific.

Berdasarkan makalah berjudul “Persyaratan dan Desain Struktur Satelit Surya-1” yang ditulis oleh Insinyur dari Departemen Fisika Universitas Surya Hery Steven Mindarno dan Insinyur dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) MF Huzain, proyek ini bertujuan untuk merintis dan menginspirasi.

“Tujuan dari proyek ini adalah menjadi pionir dalam pembuatan cubesat pertama di Indonesia dan menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk merancang sendiri cubesat yang memenuhi kriteria dan persyaratan badan antariksa,” demikian pernyataan tersebut.

Satelit nano pertama yang dibuat oleh universitas lokal berbobot 1,15 kilogram. Masuk dalam kategori satelit nano karena memiliki ukuran yang relatif kecil, dengan dimensi 1U (10cm x 10cm x 11.65cm).

Secara rinci, struktur satelit adalah aluminium anodized hitam keras. Di banyak negara maju, desain satelit nano mahasiswa sudah menjadi sangat umum, namun di Indonesia, ini merupakan pencapaian yang luar biasa.

Pada permukaan satelit dan rel, bahan anodized dengan ketebalan minimal 10 mikron meter, sesuai dengan persyaratan dokumen MIL-A-8625 tipe 3.

Misi Surya Satellite-1 adalah Sistem Pelaporan Paket Otomatis (APRS) untuk komunikasi orbit rendah Bumi (LEO).

Konstruksi Satelit Surya-1 Strukturnya berbentuk 1U, artinya memiliki volume 100 mm x 100 mm x 113,5 mm dengan berat struktur sekitar 554 gram.

Proses pemilihan bahan struktur untuk Satelit Solar-1 tidak hanya memperhitungkan faktor berat, tetapi juga konduktivitas termal, proses manufaktur, dan biaya.

Proses perancangan model CAD Solar Satellite-1 dilakukan dengan menggunakan software Solidwork 2015 dengan mempertimbangkan beberapa faktor.

Hery dalam keterangan terpisah menjelaskan, satelit ini diperkirakan melintasi wilayah Indonesia 4-5 kali sehari dan akan mengorbit pada ketinggian 400-420 kilometer di atas permukaan bumi dengan kemiringan 51,7 derajat.

“Misi SS-1 merupakan Automatic Packet Reporting System yang berfungsi sebagai media komunikasi melalui satelit dalam bentuk short text. Teknologi ini dapat dikembangkan untuk mitigasi bencana, pemantauan jarak jauh, dan komunikasi darurat,” ujarnya, dikutip dari situs LAPAN.

Kepala Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN Wahyudi Hasbi berharap pengembangan Surya Satelit-1 dapat memotivasi pengembangan satelit di perguruan tinggi di Indonesia serta menunjukkan kemampuan SDM Indonesia dalam pengembangan teknologi antariksa.

“Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN dengan kemampuan, pengalaman dan fasilitas untuk mengembangkan riset satelit selama lebih dari 15 tahun, akan selalu mendukung dan menjadi enabler bagi program pengembangan satelit di Indonesia, baik yang dikembangkan oleh perguruan tinggi, perusahaan start-up maupun swasta,” ujarnya.

[Gambas:Instagram]

(bisa/ah)