liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77

Warga Hilang di Sungai Keramat, Ritual Potong Babi Pun Digelar

Warga Hilang di Sungai Keramat, Ritual Potong Babi Pun Digelar


Toraja Utara

Warga Kampung Poton di Toraja Utara mengadakan upacara pemotongan babi untuk membantu menemukan seorang Babinsa bernama Serda Amiruddin yang tenggelam di Sungai Maiting.

Warga melakukan ritual penyembelihan babi agar penjaga Sungai Maiting mengungkap jenazah korban yang sudah 6 hari dimandikan.

“Itu hanya sesaji untuk penjaga sungai. Untuk penjaga sungai membawa korban yang hanyut selama 6 hari,” kata ketua adat Rindingallo, Marten Tande.

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

Dalam acara penyembelihan, terlihat keluarga korban Serda Amiruddin dibantu anggota TNI menyembelih babi di tepi sungai. Setelah itu, babi tersebut dicuci ke sungai.

Marten mengungkapkan, dalam acara penyembelihan tidak wajib memberikan babi. Biasanya, warga desa hanya menyembelih ayam hidup dan kemudian memakannya saat ada pertemuan adat atau kegiatan Kombongan.

“Tidak harus daging babi sebenarnya. Biasanya ayam dipotong dan dimakan juga oleh masyarakat Rombongan. Tapi karena ada pawang yang menyuruh menyembelih babi, maka keluarga melakukannya kemarin,” ujarnya.

Sungai Maiting itu Suci

Menurut Marten, Sungai Maiting sudah disakralkan masyarakat setempat sejak zaman dulu. Pasalnya, sungai tersebut telah merenggut banyak nyawa.

“Sakral. Cerita nenek kami ketika masih memegang kepercayaan Aluk Todolo, sungai ini banyak penjaganya. Sampai sekarang masih dipercaya masyarakat,” kata Marten.

“Dulu ada warga yang memandikan kerbaunya, lalu tiba-tiba menghilang. Sedangkan kerbaunya masih ada,” lanjutnya.

Alhasil, lanjut Marten, jarang ada warga sekitar yang berani turun untuk beraktivitas di Sungai Maiting. Selain itu, ada beberapa pantangan yang tidak boleh dilakukan selama berada di lokasi tersebut, di antaranya adalah dilarang mengucapkan kata-kata makian.

“Jarang sekali orang yang menyusuri sungai ini. Bahkan warga sekitar pun jarang yang turun, karena tahu sungai ini berbahaya. Saat di jembatan Maiting atau sungai, jangan berkata kasar, dan melamun. sering diganggu, kata Martin.

—–

Artikel ini telah diposting di detikSulsel dan selengkapnya dapat dibaca di sini.

Simak video “Mengenal Ritual Ma’Nene Suku Toraja, Tradisi Membersihkan Mumi Leluhur”
[Gambas:Video 20detik]
(www www)